KATA
PENGANTAR
بسم الله الرØÙ…Ù† الرØÙŠÙ…
Dengan
mengucap rasa syukur alhamdulillah
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah serta inayah-nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini.
Tiada
gading yang tak retak, begitu pula penulis yang hanya manusia biasa yang
berusaha memberikan hal terbaik yang penulis bisa. Kritik dan saran yang
membangun sangat penulis harapkan agar penulis dapat lebih baik lagi di
kemudian hari.
Penulis
menyampaikan penghargaan yang setingi-tingginya serta menghaturkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah berpartisipasi pada penyusunan makalan ini,
khususnya yang terhormat dosen mata kuliah Perbandingan Pendidikan Semester V semoga
amal baiknya mendapat balasan yang berlipat ganda dari yang maha kuasa.
Makalah
ini pada dasarnya merupakan hasil rangkuman dari berbagai sumber yang memadai
mengenai evaluasi hasil belajar dan evaluasi berbasis
portofolio semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Medan, 03 September 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... 1
DAFTAR ISI..................................................................................................................... 2
BAB I : PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang ..................................................................................................... 3
B.
Rumusan Masalah ................................................................................................ 5
C.
Tujuan Masalah .................................................................................................... 5
D.
Manfaat ................................................................................................................. 5
BAB II : PEMBAHASAN
A.
Sistem Perbandingan Pendidikan ....................................................................... 6
B.
Macam-Macam Strategi Pola Pengembangan
Strategi Pendidikan ................ 6
C.
Macam-Macam Pola Pengembangan Pendidikan ............................................. 9
BAB III : PENUTUP
Kesimpulan ..................................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................... 19
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pengembangan kurikulum dalam dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan
lagi, karena setiap lembaga pendidikan mengingin organisasinya mempunyai
perkembangan yang pesat, sehingga dapat menarik para kalangan pendidik, semakin
banyak peminat, juga semakin pesat pula input yang dihasilkan oleh
lembaga. Pesatnya pendidik pada lembaga pendidikan diukur dari seberapakah
para kepala sekolah dan guru dapat memenej di sekolah. Salah satu hal
terpenting yang harus dimenej secara efektif dan efisien
adalah masalah kurikulum. Ada beberapa alasan mengapa kurikulum perlu
dikembangkan sebaik mungkin, diantaranya;
a.
Konsevatif
Kurikulum
Kurikulum yang tidak sesuai dengan tuntutan sosial,
tidak sesuai lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga
tidak sesuai dengan dunia kerja, maka sudah jelas kurikulum akan mengalami
problem, yaitu akan terjadi pengangguran pada lulusan sekolah. Dengan melihat
data tersdebut kurikulum perlu dirubah, dikembangkan dan diperbaruhi.[1]
Kurikulum yang telah usang korbannya bukan hanya terletak
pada peserta didik saja, tapi dampak negatifnya akan menimpa pada lembaga
sekolah. Lembaga akan dijauhi masyarakat, sekolah akan ketinggalan ilmu
pengetahuan dan teknologi sehingga akan sulit akan membangun tujuan nasional
yang telah direncanakan pada sebelumnya.[2]
Kurikulum pendidikan harus bersifat dinamis, senantiasa
berubah menyesuaikan dengan keadaan suapaya dapat memantapkan belajar dan hasil
belajar. Secara garis besar perubahan kurikulum dilatar belakangi oleh beberapa
hal. Akan tetapi kata-kata perubahan bukan menghapus kurikulum sebelumnya secara
sepenuhnya akan tetapi menyempurnakan dan mengembangkan , diantaranya adalah:
1. Adanya
perkembangan dan perubahan bangsa yang satu dengan yang lain. Dengan demikian
perubahan perhatian dan perluasan bentuk pembelajaran harus mendapat perhatian.[3]
2. Industri
dan produksi
3. Orientasi
politik dan praktek kenegaraan
4. Pandangan
kalangan intelektual yang berubah
5. Pemikiran
baru mengenai proses belajar mengajar
6. Eksploitasi
ilmu pengetahuan
7. Perubahan
dalam masyarakat
b.
Sentralisasi
dan Desentralisasi Kurikulum
Sentralisasi
merupakan problem kurikulum yang paling utama, yang memunculkan pengembangan
kurikulum tingkat otonomi daerah, sebagaimana yang dikemukakan oleh
menteri pendidikan fuad hasan, bahwa tidak mungkin diterapkannyua kurikukulum
yang baku (sentralisasi) di seluruh indonesia. Karena setiap daerah
mempunyai kadar potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berbeda,
diharapkan dengan potensi tersebut setiap daerah dapat mengembangkan dan
mengelola sesuai dengan potensinya masing-masing. Dimana potensi-potensi
tersebut dapat diintegrasikan dalam kurikulum muatan lokal.
Diberikannya
kesempatan untuk mengembangkan dan mengelola potensi daerah masing-masing,
dengan harapan dapat membangun wilyahnya sendiri sehingga lulusan dari sekolah
nantinya tidak meninggalkan lingkungannya sendiri. Kalau setiap sekolah tidak
diberikan kesempatan demikian, di khawatir kan para kalangan pendidikan akan
terasingkan oleh lingkungan, dan daerahnya akan kosong karena tidak
adanya potensi yang dapat dikembangkan.
Dalam
mengangapi fuad hasan winarno surachtmad ( mantan ikip jakarta) mengemukakan,
bahwa sebenarnya indonesia tidak pernah menerapkan kurikulum fleksibel.
Kurikulum yang diberlakukan di sekolah hanya satu dan pusat, sehingga faktor
daerah seringkali kurang diperhatikan. Didalam pengelolaan, seharusnya
dihindari sentralisasi kurikulum, dan digunakan sebanyak mungkin desentralisasi
kurikulum. Untuk menuju kurikulum yang berbasis desentralisasi tersebut
diperlukan pengembangan kurikulum.
c.
Tingkat Kematangan Siswa
Tingkat
kematangan siswa juga menjadi alasan pengembangan kurikulum, karena setiap
peserta didik mempunyai jenjang pendidikan yang berbeda. Jika kurikulum
pendidikan tidak berusaha disesuaikan dengan tingkatan peserta didik maka
tujuan pembelajaran akan sulit tercapai. Untuk itu para pakar pengembang
kurikulum membuat suatu pemikiran agar anak dapat belajar dengan baik,
memperoleh ilmu pengetahuan, merubah sikap, dan memperoleh pengalaman, dengan
cara mengembangkan kurikulum yang berdasarkan azas psikologi peserta didik.
Oleh
karena itu, pemateri kali ini mengangkat tema “ pola pengembangan kurikulum”
sebagai solusi dari masalah di atas.
B. Rumusan
masalah
1. Apakah
prinsip-prinsip sistem perbandingan pendidikan itu?
2. Bagaimana
langkah-langkah mengembangkan strategi pendidikan?
3. Apasajakah
pendekatan dalam pengembangan strategi pendidikan?
4. Apakah
prinsip dasar pola pengembangan kurikulum?
5. Apakah
macam-macam pola dalam pengembangan kurikulum?
6. Apakah
manfaat pola pengembangan kurikulum?
C. Tujuan
masalah
1. Agar
mengetahui apakah prinsip-prinsip sistem perbandingan pendidikan itu.
2. Agar
mengetahui langkah-langkah mengembangkan strategi pendidikan
3. Supaya
mengetahui pendekatan dalam pengembangan strategi pendidikan
4. Agar
memahami prinsip dasar pola pengembangan kurikulum
5. Agar
mengetahui macam-macam pola pengembangan kurikulum
6. Agar
memahami dan mengetahui manfaat pola pengembangan kurikulum
D. Manfaat
1. Untuk
memudahkan guru dalam mengaplikasikan kurikulum
2. Membantu
guru dalam hal implementasi prinsip-prinsip strategi dalam pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
POLA PENGEMBANGAN
KURIKULUM
A. Sistem
Perbandingan Pendidikan
Sejalan dengan Kendal, Nicholas
Hans merumuskan bahwa tujuan perbandingan pendidikan ialah untuk mengetahui
prinsip-prinsip apa sesungguhnya yang mendasari pengaturan perkembangan sistem
pendidikan nasional.
Prinsip-prinsip
sistem perbandingan pendidikan:
1.
Prinsip
relevansi artinya keterkaitan. Hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada
hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar.
2.
Prinsip
konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa
empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat
macam.
3.
Prinsip
kecukupan artinya hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi.
Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak.
B. Macam-Macam
Strategi Pola Pengembangan Strategi Pendidikan
1.
Langkah-Langkah Mengembangkan Strategi
Pendidikan
Pengembangan pendidikan di indonesia
sekurang-kurangnya menggunakan empat strategi dasar. Yakni, (1) pemerataan
kesempatan untuk memperoleh pendidikan, (2) relevansi, (3) peningkatan
kualitas, (4) efesiensi.
Secara umum strategi itu dapat dibagi menjadi
dua dimensi yakni peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. Pembangunan
peningkatan mutu diharapkan dapat meningkatkan efesiensi, efektivitas dan
produktivitas pendidikan. Dimensi pemerataan pendidikan diharapkan dapat
memberikan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan bagi semua usia
sekolah.
Salah satu upaya pemerataan pendidikan di
indonesia adalah Program Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun yakni Sekolah Dasar (SD)
6 tahun dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) selama 3 tahun. Kebijakan
ini disebut sebagai upaya menerapkan pendidikan minimal yang harus dimiliki
oleh seuruh bangsa indonesia yang erat kaitannya dengan gerakan melek huruf dan
masyarakat belajar.
Namun demikian, setelah delapan tahun
berjalan, gerakan wajar 9 tahun belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Data Badan
Pusat Statistik (BPS) memberi gambaran jumlah anak putus sekolah masih sangat
besar dibandingkan mereka yang bias terus melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.
Berdasarkan penelitian 1995-1999 ternyata pencapaian hanya 26,39 % untuk
perempuan dan 30,7 % untuk laki-laki.
Artinya hanya sepertiga peserta didik yang
bias meneruskan sekolah, kenyataan ini menunujukkan beratnya daya dukung
masyarakat untuk menopang pendidikan. Angka Partisipasi Murni (APM) Sekolah
Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) baru sekitar 60%. Angka buta huruf masih
sekitar 10% dari penduduk umur 10 tahun ke atas. Kemampuan membaca murid
Sekolah Dasar (SD) bangsa indonesia terendah di kawasan asean. Hasil studi
kemampuan membaca untuk tingkat sekolah dasar yang dilaksanakan oleh “the international association for the
evaluation of educational achievement” (IEA) menunjukkan bahwa siswa SD di Indonesia
berada pada urutan ke 26 dari 27 negara peserta studi.
Sementara untuk Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama SLTP), studi terhadap kemampuan matematika siswa SLTP menempatkan siswa
indonesia pada urutan ke-34 dari 38 negara, dan untuk ilmu pengetahuan alam
(IPA) berada pada urutan ke-32 dari 38 negara peserta. Jadi salah satu
penyebabnya adalah lemahnya kualitas tenaga guru, kurikulum, manajemen
pendidikan serta sarana dan prasarana yang kurang memadai.
Alasan ini menunjukkan perlunya strategi baru
dalam menciptakan masyarakat melek huruf. Keterbatasan fasilitas sarana dan
prasarana, lemahnya kualitas guru, kurikulum dan manajemen pendidikan salah
satunya dapat diatasi dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi
informasi dan komunikasi dalam proses pendidikan.pendidikan tinggi mempunyai
peranan dan tanggung jawab yang strategis dalam pembangunan suatu bangsa,
termasuk memecahkan persoalan-persoalan pendidikan, mulai tingkat dasar sampai
perguruan yang tinggi. Berikut langkah-langkah strategis dalam rangka kerja
sama antar lembaga pendidikan antara lain, sebagai berikut :
Meningkatkan efesiensi dan efektivitas
manajemen pendidikan baik di tingkat makro (nasional dan daerah) maupun pada
tingkat mikro yaitu pada lembaga pendidikan itu sendiri.
a.
Menciptakan
kelembagaan agar daerah mempunyai peranan dan keterlibatan yang lebih besar
dalam penyelenggaraan pendidikan.
b.
Mendorong
peran serta masyarakat termasuk lembaga social kemasyarakatan dan dunia usaha
terutama industri telekomunikasi dan informasi sebagai mitrapemerintah dalam
pembangunan dan penyelenggaraan pendidikan dasar.
c.
Menyediakan
fasilitas yang memadai agar peserta didik dapat tumbuh dan berkembang secara
sehat dinamis, kreatif dan produktif.
d.
Menciptakan
sistem pendidikan dasar yang proaktif dan lentur (fleksibel).
e.
Menciptakan
suasana dan proses belajar mengajar yang mampu membangkitkan dan menumbuhkembangkan
kreativitas dan inovasi serta minat dan semangat belajar.
f.
Menanmkan
kecintaan terhadap ilmu penfetahuan dan teknologi (IPTEK) sejak dini di tingkat sekolah dasar
dalam rangka menumbuhkembangkan budaya iptek.
g.
Menumbuhkembangkan
daya juang (fighting spirit),
profesionalisme dan wawasan keunggulan.
h.
Menumbuhkembangkan
moral dan budi pekerti luhur sebagai pengejawantahan dari keimanan dan
ketaqwaan terhadap tuhan Yang Maha Esa.
2. Pendekatan
dalam Mengembangkan Strategi Pendidikan
Salah
satu variasi utama dalam pekerjaan klasifikasi antara comparativists adalah
usaha untuk mengklasifikasikan sistem sosial dan struktur yang tidak
menyarankan pengaturan evolusi atau hirarkis. Perbandingan politik sangat
dikenal karena ahistoris upaya untuk mengembangkan kategori mewakili dunia
politik kontemporer. Meskipun juga telah memberikan perhatian untuk modernisasi
dan pembangunan politik, utamanya politik komparatif warisan, yang bunga dalam
mengklasifikasikan jenis rezim yang ada, mencari setara bahasa dalam sistem
politik yang berbeda, dan mengelompokkan fungsi masing-masing.
Demikian
pula, spesialis dalam hukum perbandingan tertarik dalam isi normatif dari
berbagai sistem hukum. Mereka berusaha untuk mendefinisikan sistem hukum
keluarga seperti hukum romawi, hukum umum, atau hukum sosialis, dan
mengidentifikasi norma-norma dan cara berpikir yang terjadi dalam
keluarga-keluarga hukum.
a.
Pendekatan Sejarah dalam Studi Perbandingan
Penelitian sejarah
memainkan peran penting sebagai bidang pendidikan komparatif tersebut didefinisikan.
Banyak perintis awal lapangan itu sendiri sejarawan, termasuk Robert Ulich,
Ishak Kandel, Harold Benyamin Dan William W. Brickman. Mereka yang menulis buku
teks awal, termasuk Ishak Kandel (1933) serta Di Thut dan Don Adams (1964),
mengambil pendekatan historis untuk studi negara mereka.
b.
Pendekatan Melalui Pengaruh Budaya
Beberapa bidang
perbandingan fokus terutama pada pengaruh dalam dan lintas budaya. Perbandingan
sastra adalah contoh utama dari orientasi ketika bahwa ahli perbandingan
berupaya untuk mengungkap keterkaitan antara individu, sekolah pemikiran, atau
literatur nasional sepanjang waktu dan ruang.
C. Macam-Macam
Pola Pengembangan Kurikulum
1.
Prinsip Dasar Pola Pengembangan Kurikulum
Wina sanjaya (2008: 39)
mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu: relevansi,
fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas.
Prinsip-Prinsip
Pengembangan Kurikulum
Agar kurikulum dapat berfungsi sebagai pedoman dalam
penyelenggaraan pendidikan, maka ada sejumlah prinsip dalam proses
pengembangannya. Di bawah ini akan diuraikan prinsip-prinsip umum dalam
pengembangan kurikulum. [4]
a. Prinsip
Relevansi
Kurikulum merupakan
rel-nya pendidikan untuk membawa siswa agar dapat hidup sesuai dengan
nilai-nilai yang ada di masyarakat serta membekali siswa baik dalam bidang
pengetahuan, sikap maupun keterampilan sesuai dengan tuntutan dan harapan
masyarakat. Oleh sebab itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disusun dalam
kurikulum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Inilah yang disebut dengan
prinsip relevansi. Prinsip relevansi adalah prinsip kesesuaian.
b.
Prinsip Fleksibilitas
Prinsip fleksibilitas
artinya bahwa kurikulum itu harus lentur dan tidak kaku, terutama dalam hal
pelaksanaannya, dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar apa yang
dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya,
memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi
tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang
peserta didik. Apa yang
diharapkan dalam kurikulum ideal kadang-kadang tidak sesuai dengan kondisi
kenyataan yang ada.
Bisa saja
ketidaksesuaian itu ditunjukkan oleh kemampuan guru yang kurang, latar belakang
atau kemampuan dasar siswa yang rendah, atau mungkin sarana dan prasarana yang
ada di sekolah tidak memadai. Kurikulum harus bersifat lentur atau fleksibel.
Artinya, kurikulum itu harus bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada.
Kurikulum yang kaku atau tidak fleksibel akan sulit diterapkan.
Prinsip fleksibilitas memiliki dua sisi:
a) Fleksibel
bagi guru, yang artinya kurikulum harus memberikan ruang gerak bagi guru untuk
mengembangkan program pengajarannya sesuai dengan kondisi yang ada.
b) Fleksibel
bagi siswa, artinya kurikulum harus menyediakan berbagai kemungkinan program
pilihan sesuai dengan bakat dan minat siswa.
c.
Prinsip
kontinuitas
Prinsip kontinuitas
yaitu adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara
horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus
memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang
pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
Prinsip ini mengandung
pengertian bahwa perlu dijaga saling keterkaitan dan kesinambungan antara
materi pelajaran pada berbagai jenjang dan jenis program pendidikan. Dalam
penyusunan materi pelajaran perlu dijaga agar apa yang diperlukan untuk
mempelajari suatu materi pelajaran pada jenjang yang lebih tinggi telah
diberikan dan dikuasai oleh siswa pada waktu mereka berada pada jenjang
sebelumnya.
Prinsip ini sangat
penting bukan hanya untuk menjaga agar tidak terjadi pengulanganpengulangan
materi pelajaran yang memungkinkan program pengajaran tidak efektif dan
efisien, akan tetapi juga untuk keberhasilan siswa dalam menguasai materi
pelajaran pada jenjang pendidikan tertentu.
Untuk menjaga agar
prinsip kontinuitas itu berjalan, maka perlu ada kerja sama antara pengembang
kurikulum pada setiap jenjang pendidikan, misalkan para pengembang pendidikan
pada jenjang sekolah dasar, jenjang sltp, jenjang slta, dan bahkan dengan para
pengembang kurikulum di perguruan tinggi.
d.
Prinsip Efektifitas
Prinsip
efektivitasmerujuk pada pengertian kurikulum itu selalu berorientasi pada
tujuan tertentu yang ingin dicapai. Kurikulum bias dikatakan sebagai instrument
untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, jenis dan karakteristik tujuan apa yang
ingin dicapai harus jelas. Kejelasan tujuan akan mengarahkan pada pemilihan dan
penentuan isi, metode dan sistem evaluasi serta model kurikulum apa yang akan
digunakan juga akan mempermudah dan mengarahkan dalam implementasi kue\rikulu
itu sendiri.
Prinsip efektifitas mengusahakan
agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang
mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas. Prinsip efektivitas berkenaan
dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam
kegiatan belajar mengajar.
Terdapat dua sisi
efektivitas dalam suatu pengembangan kurikulum.pertama, efektivitas
berhubungan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas mengimplementasikan
kurikulum di dalam kelas. Kedua, efektivitas kegiatan siswa dalam
melaksanakan kegiatan belajar. Efektivitas kegiatan guru berhubungan dengan
keberhasilan mengimplementasikan program sesuai dengan perencanaan yang telah
disusun. Sebagai contoh, apabila guru menetapkan dalam satu caturwulan atau
satu semester harus menyelesaikan 12 program pembelajaran sesuai dengan pedoman
kurikulum, ternyata dalam jangka waktu tersebut hanya dapat menyelesaikan 4
atau 5 program saja, berarti dapat dikatakan bahwa pelaksanaan program itu
tidak efektif.
Efektivitas kegiatan
siswa berhubungan dengan sejauh mana siswa dapat mencapai tujuan yang telah
ditentukan sesuai dengan jangka waktu tertentu. Sebagai contoh apabila
ditetapkan dalam satu caturwulan siswa harus dapat mencapai sejumlah tujuan
pembelajaran, ternyata hanya sebagian saja dapat dicapai siswa, maka dapat
dikatakan bahwa, proses pembelajaran siswa tidak efektif. Prinsip efisiensi yaitu mengusahakan
agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan
sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya
memadai.
Prinsip efisiensi
berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu, suara, dan biaya yang
dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh. Kurikulum dikatakan memiliki tingkat
efisiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya yang minimal dan waktu yang
terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal. Betapa pun bagus dan idealnya
suatu kurikulum, manakala menuntut peralatan, sarana dan prasarana yang sangat
khusus serta mahal pula harganya, maka kurikulum itu tidak praktis dan sukar
untuk dilaksanakan. Kurikulum harus dirancang untuk dapat digunakan dalam
segala keterbatasan.
2.
Macam-Macam Pola Dalam Pengembangan
Kurikulum
Berdasarkan
pada apa yang menjadi fokus pengajaran, sekurang-kurangnya dikenal tiga pola
kurikulum, yaitu:
i.
Subject
centred design, suatu desain kurikulum yang berpusat pada bahan ajar.
ii.
Learner
centred design, suatu desain kurikulum yang mengutamakan peranan siswa.
iii.
Problem
centred design, desain kurikulum yang berpusat pada masalah-masalah yang
dihadapi dalam masyarakat.
Subject Centred Design
Subject
centred design curiculum merupakan bentuk desain yang paling populer, paling
tua dan paling banyak digunakan. Dalam subject centred design, kurikulum
tersusun atas sejumlah mata-mata pelajaran, dan mata-mata pelajaran tersebut
diajarkan secara terpisah-pisah. Karena terpisah-terpisahnya itu maka kurikulum
ini disebut juga separated subject curikulum.
Subject
centred design berkembang dari konsep pendidikan klasik yang menekankan
pengetahuan, nilai-nilai budaya masa lalu, dan berupaya untuk mewariskannya
kepada generasi berikutnya.
Model
desain kurikulum ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Beberapa
kelebihan dari model desain kurikulum ini adalah:
i.
Mudah
disusun, dilaksanakan, dievaluai, dan disempurnakan
ii.
Para
pengajarnya tidak perlu dipersiapkan secara khusus, asal menguasai ilmu atau
bahan yang akan diajarkan sering dipandang sudah dapat menyampaikannya.
Beberapa kritik yang
merupakan kekurangan model desain ini, adalah:
i.
Karena
pengetahuan diberikan secara terpisah-pisah, hal ini bertentangan dengan
kenyataan sebab dalam kenyataan pengetahuan itu merupakan satu kesatuan.
ii.
Karena
mengutamakan bahan ajar maka peran peserta didik sangat pasif.
iii.
Pengajaran
lebih menekankan pengetahuan dan kehidupan masa lalu, dengan demikian
pengajaran lebih bersifat verbalistik.
Learner Centred Design
Learner
centred design, memberikan tempat utama kepada peserta didik. Didalam
pendidikan atau pengajaran yang belajar dan berkembang adalah peserta didik
sendiri. Guru atau pendidik hanya berperan mencipta situasi belajar-mengajar,
mendorong dan memberikan bimbingan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Peserta didik bukan lah tiada daya, dia adalah suatu organisme yang punya
potensi untuk berbuat, berperilaku, belajar dan berkembang sendiri.
Learner
centred design berkembang dari konsep rousseau tenang pendidikan alam,
menekankan perkembangan peserta didik. Pengorganisasian kurikulum berdasarkan
atas minat, kebutuhan dan tujuan peserta didik, dua ciri utama yang membedakan
desain model learner centred design dengan subject centred design. [5]
1.
Learner
centred design mengembangkan kurikulum yang bertolak dari peserta didik dan
bukan dari isi.
2.
Learner
centred design bersifat not-prepllaned (kurikulum tidak diorganisasikan
sebelumnya) tetapi dikembangkan bersama antara guru dengan siswa dalam
penyelesaian tugas-tugas pendidikan. Organisasi kurikulum didasarkan atas
masalah-masalah atau topik-topik yang menarik perhatian dan dibutuhkan peserta
didik dan sekuensinya disesuaikan dengan tingkat perkembangan mereka. Adapun
variasi dari model ini: the activity atau experience design.
Beberapa
ciri utama the activity atau experience design,pertama, struktur
kurikulum ditentukan oleh kebutuhan dan minat peserta didik. Dalam
mengimplementasi ciri guru hendaknya.
1.
Menentukan
minat dan kebutuhan peserta didik
2.
Membantu
para siswa memilih mana yang paling urgen dan penting.
Hal ini cukup sulit, karena harus dibedakan mana minat dan kebutuhan menguasai benar perkembangan dan karakteristik peserta didik.
Hal ini cukup sulit, karena harus dibedakan mana minat dan kebutuhan menguasai benar perkembangan dan karakteristik peserta didik.
Kedua, karena struktur kurikulum
didasarkan atas minat dan kebutuhan peserta didik, maka kurikulum dapat disusun
jadi sebelumnya, tepat disusun bersama oleh guru dengan para siswa.
Ketiga, desain kurikulum tersebut
menekankan prosedur pemecahan masalah di dalam proses menemukan minatnya
peserta didik menghadapi hambatan-hambatan atau kesulitan-kesulitan tertentu
yang harus diatasi. Kesulitan-kesulitan tersebut menunjukkan problema nyata
yang dihadapi peserta didik.
Problem Centred Design
Problem centred
design berpangkal pada filsafat yang mengutamakan peranan manusia (man
centred). Berbeda dengan learner centred yang mengutamakan manusia atau peserta
didik secara individual, problem centred design menekankan manusia dalam
kesatuan kelompok yaitu kesejahteraan masyarakat.
Konsep
pengembangan model kurikulum ini berangkat dari asumsi bahwa manusia sebagai
makhluk sosial selalu hidup bersama-sama. Dalam kehidupan bersama ini manusia
menghadapi masalah-masalah bersama yang harus dipecahkan bersama pula. Mereka
berinteraksi, berkooperasi dalam memecahkan masalah sosial yang mereka hadapi
untuk meningkatkan kehidupan mereka.
Konsep-konsep
ini menjadi landasan pula dalam pendidikan dan pengembangan kurikulum. Berbeda
dengan learner centred, kurikulum mereka disusun sebelumnya (preplenned). Isi
kurikulum berupa masalah-masalah sosial yang dihadapi peserta didik sekarang
dan yang akan datang. Sekuensi bahan disusun berdasarkan kebutuhan, kepentingan
dan kemampuan peserta didik. Problem centred design menekankan pada isi maupun
perkembangan peserta didik.
3. Manfaat
Pola Pengembangan Kurikulum
a.
Bagi
Murid
Dengan
adanya pengembangan kurikulum para perserta didik nasibnya banyak yang
tertolong. Mereka dapat mengembangkan potensinya, sehingga proses pembelajaran dapat
berjalan dengan mudah dan tujuan akan sering tercapai. Dengan pengembangan
potensi tersebut peserta didik dapat bergerak dengan optimal dilingkungan
masyarakat.
Berdasarkan
prinsip relevansi, isi kurikulum harus sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan perkembangan
masyarakat. Para peserta didik diharapkan dapat hidup ditengah-tengah masyarakat secara
luas dan dapat memenuhi harapan semua pihak baik kebutuhan siswa, masyarakat
dan pengguna lulusan ( stake holders).
Apa
artinya sebuah pendidikan jika tidak dapat menjamin kesejahteraan para peserta
didik. Karena peserta didik adalah makhluk social yang akan dihadapkan berbagai
masalah dalam kehidupannya, dengan diadakannya pengembangan kurikulum
diharapkap proses pembelajaran lebih bermanfaat dan integral dengan lapangan
masyarakat.
b.
Bagi Lembaga
Pengembangan
kurikulum juga memberikan kemanfaatan yang sangat besar bagi lembaga.
Perkembangan pada sebuah lembaga pendidikan bukan terletak pada sarana
prasarana yang megah dan serba mewah, karena sarana prasarana hanyalah
sebatas fasilitas untuk mencapai tujuan pembalajaran. Tapi sarana
prasarana akan hampa dari tujuan pembelajaran bila pengembangan kurikulum
diabaikan.
Terutama
dalam nilai kemanfaatan pengembangan kurikulum, yaitu mengadung input yang
besar bagi lembaga terhadap peserta didik, karena pendapatan siswa tergantung
daya minat dari masyarakt, semakin besar daya minat dari masyarakat maka
semakin besar pula pendapatan peserta didik.
Daya minat
bukanlah hal yang spontan hadir dalam pemikiran masyarakat, tapi melalui sistem
yang sangat sistematis, sebenarnya daya minat terletak pada lembaga sendiri.
Semakin besar lembaga dapat mencetak peserta didik yang berkualitas, perhatian
masyarakat akan besar pula.
c.
Bagi
Guru
Bagi guru
sebagai tenaga kependidikan utama di sekolah, kurikulum harus mampu menjadi.pedoman
dalam merencanakan dan melaksanakan tugas mendidik~melatih dan mengajar, dalam
bentuk penyusunan dan pengorganisasian pengalaman belajar yang akan disajikan
kepada peserta didi dan pedoman dalam merencanakan dan melakukan evaluasi
terhadap perkembangan daya serap peserta didik terhadap pengalaman belajar yang
telah disajikan kepada mereka.
d.
Bagi Kepala
Sekolah
Kurikulum
harus dapat dijadikan pedoman dalam melakukan tugas-tugas sebagai
administrator/ manager (merencanakan, melaksanakan, mengontrol, mengevaluasi
kegiatan pendidikan dan pengajaran ) dan supervisor (pengawasan dan bimbingan
perencanaan dan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran) dalam rangka
memaksimalkan pencapaian tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah tersebut.
e.
Bagi
Masayarakat Pengguna Lulusan (Stakeholders)
Kurikulum
harus mampu mencerminkan segala kebutuhan masyarakat, agar peserta didik dengan
disiplin ilmu dan profesi yang didapatnya, dia dapat diterima di tengah
masyaraka
Kaitannya dengan hal
tersebut, paling tidak ada 2 hal yang harus kemanfaaatan yang dapat dilakukan
masyarakat.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Prinsip-prinsip sistem
perbandingan pendidikan: prinsip
relevansi artinya keterkaitan, prinsip konsistensi artinya keajegan. Prinsip
kecukupan artinya hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai
kompetensi.
Langkah-langkah
mengembangkan strategi pendidikan: pemerataan
kesempatan untuk memperoleh pendidikan, relevansi, peningkatan kualitas, dan efesiensi.
Pendekatan dalam
pengembangan strategi pendidikan: pendekatan melalui pengaruh budaya dan pendekatan
sejarah dalam studi perbandingan.
Prinsip dasar pola
pengembangan kurikulum: prinsip relevansi,
prinsip fleksibilitas, prinsip kontinuitas dan prinsip efektifitas.
Macam-macam pola dalam
pengembangan kurikulum:
1. Subject centred design, suatu
desain kurikulum yang berpusat pada bahan ajar.
2. Learner centred design, suatu
desain kurikulum yang mengutamakan peranan siswa.
3. Problem centred design,
desain kurikulum yang berpusat pada masalah-masalah yang dihadapi dalam
masyarakat.
Manfaat pola
pengembangan kurikulum
Bagi Lembaga
Pengembangan kurikulum juga memberikan kemanfaatan yang
sangat besar bagi lembaga. Perkembangan pada sebuah lembaga pendidikan bukan
terletak pada sarana prasarana yang megah dan serba mewah, karena sarana
prasarana hanyalah sebatas fasilitas untuk mencapai tujuan pembalajaran.
Tapi sarana prasarana akan hampa dari tujuan pembelajaran bila pengembangan
kurikulum diabaikan.
Bagi Murid
Dengan
adanya pengembangan kurikulum para perserta didik nasibnya banyak yang
tertolong. Mereka dapat mengembangkan potensinya, sehingga proses pembelajaran
dapat berjalan dengan mudah dan tujuan akan sering tercapai. Dengan
pengembangan potensi tersebut peserta didik dapat bergerak dengan optimal
dilingkungan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa, e. Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan Sebuah Panduan Praktis, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006
Nasution, S, Asas-Asas Kurikulum, PT. Bumi Aksara,
Jakarta, 1994
Sukmadinata, Nana Syaodih, Pengembangan Kurikulum Teori Dan
Praktek, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1997
[1] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, PT. Remaja Rosdakarya,
Bandung, 1997, hlm. 81
[2]
S. Nasution, Asas-Asas
Kurikulum, Pt. Bumi Aksara, Jakarta, 1994, hlm. 1-5
[3]Nana Syaodih Sukmadinata, Op.Cit, hlm. 81-85
[4] Nasution. Asas-Asas Kurikulum, PT. Bumi
Aksara, Jakarta, 1994
[5]Nana
S. Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Remaja
Rosdakarya: Bandung: 1997.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar